di Dalam KA Sembrani

di Dalam KA Sembrani

Selasa, 02 Februari 2010

SINERGI PT. KA DENGAN PT. KRAKATAU STEEL DALAM ANGKUTAN BAJA COIL

Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono mengangkat tongkat pemberangkatan KA sebagai
tanda diresmikannya perjalanan perdana KA Baja Coil dengan PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten.

PT. Kereta Api (Persero) kembali memantapkan angkutan barangnya melalui kerjasama dengan PT. Krakatau Steel (PT. KS) berupa produk Baja Coil dari pabrik PT. KS di Cilegon ke Kalimas, Surabaya. Kamis (28/1) lalu di Cilegon, dilakukan peresmian sekaligus perjalanan perdana KA Baja Coil oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Acara tersebut juga dihadiri Dirjen Kereta Api Tunjung Inderawan, Wakil Direktur Utama PT. KA Sudarmo Ramadhan, Direktur Komersial Sulistyo Wimbo Hardjito, EVP DAOP 1 Jakarta Mulianta Sinulingga, Direktur Pemasaran PT. KS Irvan Kamal Hakim, dan sejumlah pejabat lainnya.

KA Baja Coil terdiri dari 16 gerbong datar dengan kapasitas angkut 30 ton per gerbong. Soft launching uji coba sudah dimulai sejak 13 Desember 2009 dan dalam kurun waktu tersebut dilakukan evaluasi terhadap berbagai permasalahan angkutan barang. Hasilnya, PT. KS dan PT. KA sepakat meningkatkan sinergi karena banyaknya keuntungan yang didapat. ”Pengangkutan baja coil melalui KA akan mengurangi kerusakan jalan akibat baja yang beratnya hingga 16 ton. Secara keamanan dan keselamatan pengangkutan barang juga akan lebih terjamin,” ungkap Sudarmo Ramadhan dalam sambutannya.

Hal itu senada dengan yang diucapkan oleh Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irfan Kamal Hakim. Menurutnya, PT KS akan meningkatkan produksinya dari 2,5 juta ton per tahun menjadi 3,75 juta ton per tahun mulai tahun 2013. “Peningkatan produksi itu akan berdampak pada pengangkutan baja yang pada akhirnya bisa merusak badan jalan. Selain itu, berbeda dengan angkutan truck, melalui KA bisa mencegah permasalahan terkait kemacetan lalu lintas,” tandasnya.

Bambang Susantono selaku Wakil Menteri Perhubungan menyatakan bahwa masalah ketepatan waktu perjalanan KA dan disiplin bongkar muat merupakan hal penting yang perlu dicermati dalam sinergi kerjasama antara PT. KA dan PT. KS ini agar kepentingan bisnis kedua belah pihak dapat berjalan baik. Selanjutnya, Wakil Menhub mengatakan bahwa Pelabuhan Cigading merupakan salah satu pelabuhan curah terbesar di Indonesia, dan dengan adanya peningkatan produksi PT. KS sebesar 20.000 ton per bulan tujuan Surabaya telah disikapi dengan baik oleh PT. KA melalui penambahan frekuensi KA. Selain itu, Bambang menandaskan bahwa faktor penting yang perlu mendapat perhatian serius adalah jarak tempuh, komoditas angkut, waktu peredaran gerbong, dan pengaturan jumlah KA secara optimum. Pada akhir sambutannya, Bambang menyatakan bahwa pengoperasian KA Baja Coil ini sebagai salah satu upaya pemerintah dalam merevitalisasi perkeretaapian di Indonesia. “Dengan KA bisa mendukung perubahan perekonomian masyarakat, karena KA lebih cepat dan ekonomis,” pungkasnya.

Usai memberikan sambutan, rombongan wakil menteri dan juga seluruh tamu undangan yang hadir diajak menuju lokasi peresmian KA Baja Coil. Bambang Susantono mengenakan pet merah dan mengangkat semboyan sebagai petugas PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) meniup peluit panjang tanda diresmikannya perjalanan perdana kereta api barang tersebut.

Sementara itu Direktur Komersial, Sulistyo Wimbo Hardjito disela-sela acara peresmian mengatakan bahwa pengangkutan oleh kereta api menguntungkan perusahaan karena lebih cepat. Jika menggunakan truk, maka perjalanannya mencapai 7 hari waktu perjalanan sedangkan menggunakan KA, waktu tempuhnya hanya 3 hari. Otomatis, PT. KS dapat mendistribusikan komoditinya dengan volume yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Lebih dari itu juga turut mempertahankan kualitas jalan. “Satu rangkaian kereta api dengan 16 gerbong mampu mengangkut 480 ton baja, setara dengan 12 thrailer kontainer ukuran 40 ton,” ujarnya. Selanjutnya Wimbo mengatakan bahwa pengembalian rangkaian gerbong dari Kalimas ke Jakarta akan diisi dengan angkutan peti kemas, sehingga rangkaian tersebut akan optimal terisi secara bolak balik. Tarif yang telah disepakati adalah Rp. 180.000,- per ton belum termasuk ppn.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar